Sebelumnya aku pernah membaca sedikit cerita
terjemahan tentang apa yang akan ku tulis ini, lalu muncul dipikiran ku
bagaimana jika aku membuat cerita itu menjadi cerita pendek dengen gaya dan
pikiran ku sendiri. Dan ini flash fiction pertama ku, maaf kalau ada salah pengetikan..
***
‘Apakah kau tau bagaimana rasanya ditertawai oleh
dunia ini? Jika tidak mungkin kau harus bertanya padaku.’
***
“evelin, apa kau sudah siap sayang untuk berangkat
ke sekolah?” seperti biasa ibu membangunkanku dipagi hari untuk pergi kesekolah
“ya, bu.” Jawabku singkat. Aku keluar dari kamarku yang terletak di lantai 2
rumahku dan siap untuk kesekolah. Bus sekolah telah menunggu di ujung perumahan
rumahku. setiap pagi aku harus berjalan untuk menuju kesana, lumayan jauh dan
melelahkan. “evelin datang” bisik teman temanku di dalam bus bahkan bagiku itu
tidak terdengar sebagai bisikan melainkan teriakan. mereka berbisik menempelkan
mulut mereka ke telinga orang lain tetapi itu sangat keras, aku hanya melihat
sekeliling orang-orang yang melihatku seperti aku ini orang paling hina. Mereka
membicarakan aku, melihat ku dengan mata sinis. dan yang paling membuatku
selalu ingin menangis saat mereka menertawakannku, sekonyong-konyong aku ini
boneka monyet yang menggendong drum di lengannya kirinya dan membawa stick drum
dilengan kananya yang dimainkan dengan bantuan baterai sehingga monyet itu menepuk
drumnya terlihat lucu jika dilihat oleh anak bayi bahkan bisa membuat para bayi
itu tertawa geli melihat boneka monyetnya itu. ‘sepertinya dia akan mulai
menangis lihatlah’ beberapa orang menunjuku dan tertawa. aku bersumpah dalam
hatiku aku tidak akan menangis hanya karena omongan orang-orang ini, sumpah.
***
“lenganmu akan naik keatas dan terlihat sangat jelek
jika kau selalu menggunakan itu, tapi bagaimana lagi kau bisa jatuh jika kau
tidak menggunakannya, evelin hahahaha” sapa-an pagi seperti ini selalu hampir
setiap pagi aku dapatkan dikelas, kesal rasanya tapi aku tidak ingin beradu
mulut dengan mereka. Lagi-lagi mereka menertawakanku. Membiarkan mereka
membicarakanku adalah cara yang selalu aku gunakan, seakan-akan aku tidak
peduli padahal jauh di lubuk hatiku paling dalam semua ini sangat menyakitkan,
rasanya seperti sebuah timah panas keluar dari sebuah senapan masuk dengan
cepat ke dalam jantungmu, membuatmu merasakan sakit yang amat sangat sakit dan
membuat sebuah burung jatuh dari terbangnya yang sangat tinggi dan runtuh
berkeping kedasar yang paling dasar. tidak ada yang berpihak padaku satu orang
pun tidak ada, bahkan aku duduk sendiri padahal terdapat dua kursi disini.
Kadang aku berpikir sebenarnya aku harus marah kepada siapa atas semua ini?
Tuhan? Ibu? Ayahku? Atau diriku sendiri. Aku selalu terima semua itu.
***
“evelin ayo segera turun dan makan malam bersama
ayah dan adikmu sudah menunggu” akupun bergegas turun untuk makan malam
bersama. “sini ibu ambilkan untuk kalian, apa nasinya sudah cukup evelin?”
Tanya ibuku dengan penuh perhatian “cukup bu, terimakasih.” Jawabku “ibu
ambilkan untuku juga” tambah jill, adik perempuanku yang berjarak sekitar 4
tahun denganku sekarang dia kelas 5 sekolah dasar dia begitu cantik dan yang
tak kalah ku agumi dia ‘normal’. Aku hanya merasa dihargai saat aku dirumah, aku
mencintai keluargaku. “kita harus control besok evelin” ayahku membuka
pembicaraan “besok ibu dan ayah akan menjemputmu disekolah dan kita
bersama-sama kerumah sakit” tambah ibuku dengan nada bicara yang sangat lembut
“ya, baiklah” jawabku, tiba-tiba terpikir kejadian tadi siang di otakku “bu,
yah apakah kalian bisa membelikanku kursi roda?” pertanyaan itu keluar dengan
sendirinya “apa maksudmu evelin?” Tanya ayahku “aku tidak ingin menggunakan
tongkat penyangga di lenganku lagi karena alat itu akan membuatku jelek dan
lenganku akan naik” ibuku kaget setengah mati saat aku berbicara seperti ini
aku tidak pernah berkeluh kesah kepada keluargaku tentang penyakit yang ku
derita dan ejekan teman-temanku aku juga tidak pernah cerita “dan…..jalanku,
aku tidak menyukainya bu, maka dari itu aku ingin menggunakan kursi roda” ibuku
terlihat akan menangis dan aku sebenarnya tidak suka membuat mereka sedih atau
khawatir tapi aku tidak sanggup memendam semua ini sendiri “apa ada yang
mengejekmu tentang bagaimana kau berjalan evelin?” ibuku mengusap matanya “ya”
jawabku, ibuku mulai menangis dan aku mulai merasa bersalah padahal aku sudah
bersumpah untuk tidak membuat ibuku menangis lagi, setelah aku di diagnose
terkena penyakit ini ibuku menagis tidak karuan hampir setiap pagi aku melihat
matanya merah dan bengkak mulai saat itu aku bersumpah dalam hati aku tidak
akan membuat ibuku menangis lagi. Tapi aku mengingkari sumpahku itu aku
membuatnya menangis dan dadaku mulai sesak melihatnya menangis. “apa semua
temanmu menertawakanmu evellin?” ibuku bertanya dengan terisak karena menangis,
aku merasa bahwa aku tidak perlu menjawabnya, ibuku sudah sangat sedih lalu aku
berpamitan untuk kekamarku. Kembali aku merenung siapa yang harus tanggung
jawab semua ini? Pada siapa sebaiknya aku marah? Dadaku terasa sangat sesak dan
aku mulai menangis terisak di kamar, aku mohon semoga malam ini tak pernah
terjadi dan kata-kataku tadi tidak pernah terlontar dari mulutku dan ejekan dan
tertawaan semua orang harusnya ku simpan sendiri.
***
Hari ini hari dimana aku harus menjalani control
untuk yang kesekian kalinya. bau rumah sakit, perempuan memakai baju putih,
tabung oksigen, obat dan semua yang berhubungan dengan rumah sakit aku tidak
suka. Aku berjalan ke ruangan dokter yang selama ini menanganiku dan wanita
berumur sekitar 45 tahun itu mulai memeriksaku setelah itu mengabarkan kepada
orang tua-ku bagaimana keadaanku “dia baik-baik saja penyakitnya tidak tambah
parah dia sehat” dokter ana mulai menjelaskan, aku melihat kedua orang tuaku
sangat bersyukur atas apa yang dikatakan dokter ana barusan “lalu dok, kapan
penyakit putriku ini akan diangkat?” Tanya ibuku penasaran aku tidak berharap
terlalu jauh tentang kesembuhan penyakit ini karena itu akan menimbulkan
kekecewaan yang sangat besar jika aku berharap terlalu jauh “cerebral palsy adalah penyakit yang
tidak mudah disembuhkan. Tapi selalu berdoalah bahwa penyakit evelin cepat
sembuh” ya aku terkena penyakit cerebral
palsy penyakit dimana penderitanya mengalami kelainan otot yang tampak aneh
bagi sebagian orang. Maka dari itu aku tidak suka cara berjalanku yang dibantu
dengan alat penyangga seperti orang pincang, aku hanya bisa menyeret kaki
kiriku dan cara bicaraku terlalu aneh oleh orang lain. aku berbicara dengan
artikulasi yang kurang jelas, itu semua yang membuat kenapa aku menjijikan dan
hina di mata teman-temanku atau orang yang aku tidak kenal dijalan. Fisikku
cacat tapi tidak berarti hatiku juga cacat hatiku ini normal, aku hanya ingin
mereka semua melihatku bukan dari fisik, selalu aku berdoa agar mereka semua
berhenti membuatku sakit hati berhenti membuatku berpikir dengan siapa
seharusnya aku marah, Berhenti memaki-ku, apakah mereka tau bahwa aku muak
dengan semua itu?
***
Seperti biasa aku harus pergi kesekolah setiap hari.
Aku berjalan menuju kelasku dan tiba-tiba ada seseorang datang dari arah yang
berbeda dan aku tidak sengaja menabraknya tidak tau tepatnya siapa yang di
tabrak dan siapa yang menabrak dan aku terjatuh, pria itu hanya melihatku dan
mulai tertawa “kau punya mata tidak? Pakai matamu bodoh!” pria itu
meninggalkanku dengan cara berjalan dan berbicara menirukanku menyeret kaki
kirinya dan melenggang pergi hatiku sangat sakit sekali ingin rasanya aku
menangis sekeras-kerasnya betapa susahnya aku untuk bangun dari jatuhku
sedangkan orang lain hanya melihatku dan tertawa, ingin sekali aku bertanya
pernahkah mereka membayangkan menjadi aku? menjadi orang yang sering
ditertawakan? menjadi orang yang cacat? menjadi orang yang selalu dihina? apa
mereka semua tidak bisa merasakan perasaanku, satupun adakah? Aku mencoba
berdiri sekuat tenaga tapi tetap tidak bisa sampai pada akhirnya ada guru yang
lewat dan membantuku dia minta maaf atas semua yang dilakukan muridnya yang
tidak menolong ku dan hanya mentertawaiku. Aku berterima kasih kepada tuhan
masih ada orang yang mau membantuku.
***
Lambat laun penyakitku ini menjalar ke otot tangan
kiriku sehingga tidak dapat digerakan dengan optimal, aku bersyukur bukan
tangan kanan ku. Tapi aku mulai putus asa, penyakit ini mulai menjalar
ketubuhku. Harus bagaimana aku saat disekolah? Aku menelan semua rasa Malu-ku
dan menuju sekolah pagi itu, ada tugas dari pak jones untuk mengapalkan sebuah
sastra inggris lama, jujur aku belum terlalu hapal mengenai itu. Satu per satu
murid dipanggil maju kedepan untuk dinilai hapalannya sejauh ini hanya satu
orang yang bisa menghapal dengan benar. Hukumannya yang tidak bisa menghapal
dengan benar harus lari memutari lapangan bersama anak yang tidak bisa lainnya.
Giliranku tiba, “evelin anastasha” panggil pak jones semua orang sekarang
sedang menahan tawanya melihat aku maju. Aku mulai menghafal tapi sungguh aku ingat
semua kalimat dalam hafalan itu “maaf pak jones, aku tidak bisa menghapal
semuanya” wajah pak jones berubah begitu juga teman-temanku, aku berjalan
keluar kelas dan menaruh alat penyanggaku di pintu kelas tiba-tiba pak jones
berteriak “tidak evelin! Jangan! Hukuman itu tidak berlaku untukmu” jelas pak
jones, aku menatap seluruh temanku, sekarang wajah mereka berubah mengasianiku
dan aku sudah tidak bisa melihat dengan jelas karena air mataku “kenapa tidak
berlaku untukku juga? Aku tidak bisa menghafalnya mr jones, kenapa aku tidak
boleh berlari seperti mereka teman sekelasku? Aku hanya ingin menjadi normal
seperti mereka!” “kau berbeda eve!” “apa yang membuatku berbeda dengan mereka
semua? Kita sama-sama manusia, mempunyai hati, tangan, kaki dan indera lain.
Hanya aku…….manusia cacat” aku mulai terisak tak karuan aku tidak bisa melihat
apapun sekarang karena mataku. Pertama kalinya dalam hidupku aku bisa
mengeluarkan rasaku ini kepada teman dan guruku dadaku sesak, rasanya seperti
sangsak yang dipukul oleh petinju nomor satu dunia dan dipukul oleh kayu kasti
dan di lambungkan ketempat yang berduri. Aku menyerka air mataku sekarang
terlihat jelas keadaan dikelas, teman-temanku menangis entah menangis karena
kasihan padaku atau karena mereka sadar atas apa yang mereka lakukan selama ini.
Pak jones menghampiriku dan memelukku salah satu temanku berbicara dengan
terisak “eve maafkan aku selama ini, aku tau kau pasti sangat kesepian, aku
sedih saat kau berbicara seperti itu aku membayangkan bahwa aku seperti kau di
tertawakan, dihina. Aku memang normal secara fisik tapi aku sadar hatiku
cacat….eve maafkan aku” aku tambah terisak mendengar pernyataan jennie, mereka
semua sadar bagaimana aku sekarang, bagaimana perasaanku. Andaikan mereka bisa
sadar dari awal betapa indahnya kehidupan ini, terimakasih tuhan aku tidak akan
marah dan minta pertanggung jawaban ini kepada siapapun sekarang.
***
Kau tau tuhan pasti akan mengabulkan doamu entah
kapan, tetaplah berusaha dan berpikir positif walaupun batin dan hatimu merasa
sangat sakit dan sesak. Aku hanya minta kepada tuhan semoga semua orang bisa
dekat dan peduli padaku, tidak menghina, menertawakanku. Dan semua itu
terkabul. hampir seluruh ototku sudah tidak bisa digunakan dengan optimal aku
berterimakasih karena tuhan telah menyadarkanku bahwa di dunia ini tidak ada
yang salah, bukan hidup yang salah tidak ada yang membuatmu marah semua ini
kuasa tuhan, tuhan yang mengatur, kau hanya perlu menjalankan dengan penuh
kesabaran. Dan untuk keluargaku terimakasih telah mendidik dan membesarkan anakmu
yang cacat dan membuat malu keluarga ini. Terimakasih.

